SEKILAS INFO

     » Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Madiun
Jumat, 16 Juni 2017 - 10:33:58 WIB
Mengenal Gejala dan Penanggulangan Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC)

Diposting oleh : Rizkidya Utami, SP
Kategori: Bidang Perkebunan - Dibaca: 136 kali

Penyakit BPKC merupakan salah satu penyakit yang paling merusak tanaman cengkeh sehingga menyebabkan kematian tanaman. Penyebabnya adalah Bakteri Pseudomono syzgii. Penularan penyakit BPKC umumnya mengikuti arah angin melalui vector serangga Hindola fulfa (di Sumatera) dan Hindolo sriata (di Jawa) dari pohon sakit ke pohon yang sehat. Dapat pula melalui alat-alat pertanian seperti golok, gergaji, parang, sabit yang dipergunakan memotong pohon yang sakit.

Adapun gejala serangan penyakit pembuluh kayu cengkeh sebagai berikut:

  1. Mati Cepat

-          Daun kekuningan dan cepat gugur/gugur mendadak

-          Ranting-ranting pada cabang dekat pucuk mati

-          Gugur daun dari atas kebawah, terjadi selama beberapa minggu atau bulan, kadang-kadang cabang atau seluruh tanaman muda layu secara mendadak, sehingga daun yang kering berwarna cokelat tetap melekat pada pohon untuk bebeerapa waktu.

-          Daun tua pada umumnya berwarna kekuningan dan cepat gugur

-          Cabang cepat mati kalau daun banyak yang gugur

-          Beberapa cabang bagian bawah dapat bertahan lama bagian atas mati.

-          Akar-akar mati seiring matinya pohon, ± 2 tahun sejak timbulnya gejala serangan.

-          Bila kayu dipotong memanjang, akan terlihat garis-garis kelabu kecoklatan, terutama pada akar dan batang

-          Cabang/ranting dipotong melintang dan dipencet keluar cairan warna coklat susu (Ozse bakteri)

 

  1. Mati Lambat

-          Gejala serangan bertahap, seluruh daun menguning lalu gugur

-          Daun-daun menjadi dewasa sebelum waktunya, amsa gugur daun dapat berganti dengan pulihnya sebagian pohon dan berkembangnya daun muda serta kuncup bunga, namun jumlahnya sangat sedikit

-          Mati ranting dan cabang terjadi di seluruh pohon dan tanaman dapat bertahan 3-6 tahun setelah muncul segala

-          Batang dan akar pohon yang mati lambat ini tidak mengeluarkan lender bakteri jika dilembabkan

-          Tanaman muda kurang dari 3 tahun jarang menunjukkan gejala penyakit walaupun sudah terinfeksi

-          Gejala serangan penyakit BPKC baik didataran tinggi maupun dataran rendah sama yaitu kecepatan pertumbuhan berkurang, daun menguning dan suram

-          Gugur daun sering diikuti dengan gejala layu mendadak, dan kematian yang diawali dengan mengeringnya cabang atau ranting

-          Pada dataran tinggi dan dataran sedang, kematian berlangsung lebih cepat (6 bulan). Sedangkan didataran rendah kematian berlanmgsung lambat (10 bulan)

 

Saran Pengendalian Pseudomas syzigii (BPKC)

  1. Sanitasi kebun dan penyemprotan Hindola fulfa dengan menggunakan insektisida kontak/lambung dengan interval 6 (enam) minggu sekali (untuk tanaman yang masih bisa diselamatkan)
  2. Penyuntikan (infuse) dengan antibiotic oksitetrasklin (OTC) sebanyak 6gr/ 100 ml air.

-          Jarum infuse yang digunakan berdiameter 1mm

-          Penginfusan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali

-          Kedalaman jarum infuse 5-10 cm

-          Ketinggian titik infuse dari prermukaan tanah 1-1,5 m

      3. Perbaikan fisik tanaman dengan pemupukan kombinasi N dan K

      4. Menggunakan bibit cengkeh unggul dan menghindari penggunaan bibit dari daerah terserang

      5. Mencegah masuknya daun cengkeh dari daerah terserang

      6. Eradikasi tanaman yang sudah mati (dipotong, bongkar akar dan dibakar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber gambar: wikipedia org