SEKILAS INFO

     » Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Madiun
Kamis, 24 November 2016 - 09:52:28 WIB
Beras Analog, Cara Lain Mengurangi Konsumsi Beras

Diposting oleh : Rizkidya Utami, SP
Kategori: Bidang Perkebunan - Dibaca: 338 kali

Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras (nasi) sebagai makanan pokok membuat pemerintah terus menggenjot produksi bahan pangan tersebut. Namun di sisi lain upaya menggenjot produksi padi (beras) makin banyak menghadapi tantangan.

Salah satu jalan mengurangi ketergantungan beras, pemerintah menggerakkan program diversifikasi pangan. Namun sebagai pengganti beras sebagai pangan pokok tentu memerlukan alternatif pangan lain yang memiliki rasa dan bentuk yang mirip. Salah satunya adalah beras analog yang diolah dari aneka ragam sumber karbohidrat.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Slamet Budijanto mengakui, masyarakat Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas beras padi sebagai bahan pokok untuk dikonsumsi. Padahal, Indonesia memiliki sumber karbohidrat yang sangat banyak, seperti jagung yang diolah menjadi tepung.

Catatan menyebutkan, Indonesia merupakan negara yang mengkonsumsi beras sebanyak 124 kg/kapita. Sayangnya salah satu substitusi karbohidrat terbesar justru berasal dari tepung terigu yang 100% masih impor. Padahal menurut Slamet, masyarakat bisa melepas ketergantungan dari beras. Hanya saja, ada anggapan yang sudah sangat melekat bahwa belum makan kalau belum makan nasi.

Untuk membantu mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras, sejak tahun 2012, Slamet bersama tim dari IPB melakukan penelitian membuat bahan pangan pengganti beras padi. Alhasil, dihasilkan alternatif pengganti beras padi yaitu beras analog.

“Beras analog bisa dibuat dari jagung, sorgum, singkong, ubi jalar, hingga sagu. Intinya untuk menyajikan karbohidrat dengan cara lebih simpel. Lebih mudah diolah dan dikonsumsi,” kata Slamet.

Bentuk beras tersebut nyaris sempurna, menyerupai beras dari padi. Hanya warnanya yang tidak bisa seputih seperti beras otentik. Menurut Slamet, sebenarnya warna beras analog bisa di-bleaching agar putih, tapi dikuatirkan kandungan kimia saat bleaching bisa merusak kandungan dalam beras. "Itulah kenapa disebut beras analog. Jadi, bentuknya beras, tapi bukan beras,” ujarnya.

Sumber: http://tabloidsinartani.com